Kiat Produktif Menulis dalam Keterbatasan Waktu

Sebagai seorang psikolog yang telah 10 tahun ini bergelut di bidang marketing perdagangan berjangka, saya mencoba mengenal dunia menulis dengan cara dan gaya saya. Otodidak, karena saya tak pernah mengikuti kursus kepenulisan di mana pun. Bukan karena saya ke-pede-an, tetapi lebih ke masalah waktu.

Yup, saya harus membagi waktu sebagai ibu rumah tangga, marketing perdagangan berjangka, konsultan lepas salah satu lembaga psikologi, dan kini sebagai penulis juga tentunya. Berikut ini adalah kiat saya untuk tetap produktif menulis meskipun waktu yang kita miliki terbatas.

1. Percaya Diri

Saya sadar telah terjun di dunia baru yang pasti penuh dengan warna-warni di kepenulisan ini. Jadi, bagaimana saya dapat menelusuri lebih jauh tentang dunia ini kalau saya tak punya rasa percaya diri. Dengan berbekal Bismillah, saya bulatkan tekad untuk terjun bebas ke dunia baru ini.

Saya yakin akan mampu menjalaninya, seperti saya menjalani semua aktifitas lainnya. Rasa percaya diri ini pula yang akhirnya mampu menggerakkan diri untuk membuat outline, mengirimkannya ke agensi dan penerbit, serta menulis ketika telah disetujui.

2. Talk Less Do More

Menyadari bahwa tumbuh sebagai orang Surabaya yang ceplas-ceplos, maka saya usahakan untuk sesedikit mungkin berbicara, mengganti status, atau berkomentar di facebook. Saya memperkirakan banyak sekali penulis lain, editor, agensi, bahkan penerbit yang juga online.

Ketika saya terjun ke dunia mereka, saya harus banyak belajar dari keadaan. Dengan irit bicara, saya pikir akan menghindari perdebatan, bisa obyektif memandang suatu permasalahan, dan bisa diterima di berbagai komunitas. Padahal aslinya, saya memang pendiam... hehehe, kalau tidur.

3. Mencoba Untuk Santun

Afin Murtie adalah seorang yang serius, pasti banyak yang mengatakan hal itu. Kenyataannya memang demikian, saya sangat serius mempelajari apa yang saya jalani. Saya suka membaca semua buku dan juga suka mencoba menulis semua bidang. Soal santun, saya memang mencoba untuk tidak menggunakan kata-kata kasar atau tak selayaknya diucapkan, bahkan dalam bentuk canda sekalipun. Karena saya takut akan terbawa sampai ke rumah, dan anak-anak menirunya. Oh tidak.....

Demikian juga dalam menawarkan diri sebagai penulis, saya mencoba untuk santun. Dengan batasan-batasan tertentu menurut diri sendiri, seperti:
- Mengatakan akan membuat outline atau menulis jika memang saya mampu.
- Tidak membuat outline atau menawarkan diri untuk menulis apabila telah ada teman lain yang mengambil judul tersebut. Misalnya ada suatu agensi yang menawarkan membuat outline A,B,C, dan D. Kemudian sudah ada teman yang komentar akan membuat yang A, maka saya tidak akan membuat yang sama. Mencari yang belum dibuat teman lain saja, kesempatan kan banyak).
- Mencoba tidak turut komen dalam permasalahan yang tidak saya ketahui benar.
- Mencoba santun dalam setiap tulisan yang saya buat, menghindari menulis nilai-nilai kehidupan yang kurang saya setujui.

4. Komitmen

Kunci dari segala kesuksesan dalam menjalani suatu pekerjaan adalah komitmen. Apabila kita telah mendapatkan sebuah kesempatan berharga untuk menuangkan karya kita, maka usahakan untuk berkomitmen. Dalam dunia menulis mungkin ini yang dinamakan tepat deadline. Misalnya saya memang merasa sulit untuk menepati deadline yang telah ditentukan, maka saya mencoba untuk negosiasi dengan agensi atau penerbit. Meminta tambahan waktu beberapa hari, dan menyelesaikannya dengan maksimal. Mereka akan mengerti apa yang menjadi kendala kita, jadi kita tak perlu lari dari kenyataan kemudian membatalkan apa yang telah kita janjikan. Sungguh, ini menyangkut kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita.

5. Jujur dan Cinta

Dua kata yang membuat pekerjaan menulis dan apapun menjadi lebih ringan, tetap maksimal, dan sukses. Menulislah dengan penuh kejujuran. Tulis apa yang memang kita lakukan dan kita anut. Sedih rasanya, kalau membaca buku yang di dalamnya penuh nilai-nilai kesopanan dan mengajak orang lain dalam kebaikan tetapi ternyata ditulis oleh seseorang yang sulit menjalani keduanya. Jujur dalam setiap yang kita tulis, dan lakukan dengan penuh cinta maka semua akan berjalan dengan lancar. Insya Allah.

6. Membagi Waktu

Meskipun tak akan pernah sempurna, tetapi saya mencoba memaksimalkan waktu yang telah dianugerahkan oleh-Nya. Menulis bagi saya adalah pekerjaan, dan berkeluarga adalah kewajiban utama. Jadi saya akan menulis setelah semua keperluan anak-anak terpenuhi. Masak, menemani belajar, menemani bermain, dan memeluk hangat anak-anak dan Abah mereka adalah kekuatan tak terhingga bagi saya. Oleh karenanya saya menulis sambil melakukan itu semua. Soal pekerjaan rumah tangga lainnya, Alhamdulillah suami selalu mendukung dengan mempersiapkan asisten rumah tangga.

Jadi, saya rasa tidak ada halangan bagi kita, kaum perempuan, untuk terus menulis di samping juga menjaga keutuhan rumah tangga. Hidup ini bisa seimbang. Yang penting adalah bagaimana kita mengaturnya.

Afin Murtie adalah penulis sejumlah buku, antara lain: Strategi Gila Menjadi Marketing No 1, ( Laskar Askara, 2011), Masakan Korea Paling Populer, (Pustaka Anggrek, 2011),  Kupas Tuntas, Menguasai Pemeliharaan dan Pengembangbiakkan Lovebird, (Cahaya Atma Pustaka, 2011), 7 Kesalahan Marketing Dalam Menjual dan Solusinya (Laskar Aksara, 2012) serta Belajar Manajemen Dari Konsultasi Strategi (Laskar Aksara, 2012)

sumber: republika.co.id

0 komentar:

Post a Comment

Pengunjung yang baik akan selalu meninggalkan komentar.