Gempa Turki Menelan Korban 500 jiwa

Bencana alam gempa bumi kembali melanda bumi ini. Kali ini giliran negara Turki yang mengalaminya. Hingga kini proses pencarian korban selamat dan evakuasi pascagempa di kawasan timur Turki pada Minggu lalu (23/10) tertunda. Hal ini di karenakan  hujan salju mengguyur lokasi bencana. Hal itulah yang memaksa tim SAR dan sukarelawan menghentikan pencarian dan evakuasi korban. Padahal, jumlah korban tewas terus meningkat. Bahkan, kemarin telah melampaui angka 534 jiwa.

Sebelum terhenti karena hujan salju, tim SAR sempat mengangkat seorang pemuda 19 tahun dari reruntuhan bangunan di Kota Ercis. Evakuasi yang dilakukan sekitar 91 jam (empat hari) setelah gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) mengguncang Provinsi Van itu menjadi penyelamatan terakhir sebelum salju mengguyur provinsi yang berbatasan langsung dengan Iran tersebut.
 
Cuaca yang tidak bersahabat memaksa tim penyelamat menghentikan penyisiran. Sebab, peluang untuk kembali menemukan korban selamat di balik guyuran salju sangat tipis. Seiring terhentinya proses evakuasi tersebut, bantuan mengalir dari berbagai penjuru dunia ke Turki. Termasuk, dari Israel dan Armenia yang sedang bersitegang secara diplomatik dengan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Recep Tayyip Erdogan.
 
Saat ini, pemerintah Turki fokus pada ribuan warga yang kehilangan rumah dan terpaksa tinggal di penampungan. Sejumlah warga nekat meninggalkan tempat penampungan karena merasa tak mendapatkan bantuan yang layak. Tanpa memedulikan ancaman guncangan susulan, mereka kembali ke rumah masing-masing yang sudah tidak utuh lagi.
 
Sermin Yildirim, salah seorang warga yang bertahan di penampungan, mengeluhkan kurangnya bantuan tenda dari pemerintah. Padahal, tenda menjadi kebutuhan utama bagi warga untuk melawan udara superdingin yang melanda Turki belakangan ini. Karena terbatasnya jumlah tenda, tak semua korban gempa di tempat penampungan tersebut bisa bermalam di dalam tenda.
 
"Udara di luar semakin dingin. Anak-anak saya mulai terserang batuk. Entah sampai kapan kami harus bertahan tanpa tenda seperti ini," ungkap ibu dua anak yang sedang hamil delapan bulan itu.

Selain Yildirim, puluhan keluarga lain juga tidak kebagian tenda. Puluhan orang terpaksa berbagi tenda dengan keluarga lain.
 
Salah satunya adalah Muhlise Bakan yang berbagi tenda dengan istri kedua suaminya. "Sungguh nyaman. Saya punya empat anak dan dia punya lima anak. Di rumah, kami tidur di ruangan berbeda. Tapi, di sini kami terpaksa tidur berdampingan di ruangan sama," ujar perempuan 41 tahun tersebut.
 
Beruntung, kemarin PBB mengirimkan bantuan 1.000 tenda untuk Turki. Bantuan itu langsung dialokasikan ke tempat penampungan di Kota Van dan beberapa lokasi lain di Ercis. Bersamaan dengan itu, pesawat Israel tiba dengan lima rumah siap bangun. "Dalam waktu dua hari, akan ada tiga lagi pesawat kami yang tiba di Turki dengan membawa sejumlah bantuan," kata Nizar Amer, jubir Kedubes Israel.
 
Sementara itu, hingga kemarin jumlah korban tewas telah menembus angka 534. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah. Sebab, ada ratusan dan bahkan mungkin ribuan warga yang dinyatakan hilang. Sedangkan korban luka mencapai sekitar 2.300 orang. Lalu, mereka yang berhasil diangkat dari balik puing dalam kondisi selamat berkisar 185 orang. (AP/AFP/hep/dwi)

1 komentar:

  1. kasian banget ya mereka semua, semoga keluarganya diberikan ketabahan...

    INdonesia punya cara untuk cegah bencana dengan Burung Kutilang

    kunjungan perdana gan, follow balik ya ke blog saya di cantikalayanti.blogspot.com

    ReplyDelete

Pengunjung yang baik akan selalu meninggalkan komentar.