Menghitung "Tumbal" Pasar Mobil Murah

Kehadiran mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC), kini menjadi tambang baru para produsen otomotif mengeruk keuntungan di pasar nasional.
Tidak butuh waktu lama. Begitu dilempar ke pasar, mobil murah langsung disambar konsumen yang kebanyakan masyarakat menegah ke bawah--pembeli mobil pertama (first buyer).
Derasnya penjualan tentu jadi berkah buat si produsen. Tapi di sisi lain, kegemilangan mobil murah justru menjadi ancaman serius bagi model lain dari merek sama.
Berstatus pendatang baru, mobil murah yang masuk kategori city car (mobil perkotaan) mulai mendepak pemain lama. Punya selisih harga dan fitur yang tidak jauh serta masih satu tipe, membuat konsumen justru beralih ke mobil murah.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan angka menakjubkan. Total penjualan city car dari pabrik ke dealer (wholesales) pada Oktober 2013 mencapai 16.557 unit. Dari jumlah itu, ternyata 11.592 unit disumbangkan penjualan mobil murah.
Jadi, bisa diartikan, pada bulan ke-10, penjualan city car tanpa LCGC hanya laku 4.965 unit.
Kondisi ini menjadi indikasi awal yang penting bagi para produsen. Mereka harus menyiapkan skenario atau strategi lain, agar kehadiran mobil murah justru tidak "makan korban". Pada bulan kedua kehadiran mobil murah di pasar, banyak model city car terjengkang. Mereka menjadi tumbal.
Kanibalisme
Toyota Etios Valco misalnya. Mobil yang diluncurkan sejak Maret 2013 itu sempat berada di atas angin. Penjualannya cukup bagus. Bahkan, pada April-Mei, jualan Etios tembus di atas angka 2.500 unit.
Tapi begitu Agya dipasarkan, penjualan Etios mendadak menyusup. Mobil dari merek serupa dengan kapasitas sama-sama lima penumpang itu hanya terjual 639 unit di Oktober. Padahal, pada September mencapai 1.019 unit.
Sedangkan penjualan Agya langsung melejit dari 4.123 unit pada September menjadi 5.343 unit selama Oktober 2013. Capaian ini menjadikan Agya masuk peringkat lima jajaran 20 mobil terlaris bulan lalu.
Meski begitu, pamor Agya belum bisa menggoyang mobil paling laris Toyota, yakni Avanza. Penjualan Avanza memang sempat turun. Pada September lalu, terjual 20.066 unit. Kemudian 17.809 unit di bulan berikutnya. Tapi angka itu masih unggul sangat jauh dibanding Agya.
Toyota juga punya analisis sendiri. Mereka justru yakin kehadiran Agya bukan ancaman. Apalagi meminta tumbal.
Menurut General Manager Corporate Planning and Public Relation Toyota Astra Motor (TAM), Widyawati Soedigdo kepada VIVAnews, Etios konsumennya bukan first buyer (pembeli mobil pertama). Biasanya mereka yang sudah memiliki mobil Toyota, kemudian beli mobil keduanya adalah Etios.
Berbeda dengan Agya yang memang diperuntukkan bagi pembeli mobil pertama atau beralih dari sepeda motor ke roda empat. Diketahui, harga Agya tipe tertinggi dengan Etios varian terendah hanya terpaut Rp10 juta.
Begitu juga dengan Avanza, kata Widya , konsumen Indonesia pada dasarnya sangat membutuhkan mobil Low MPV (Multi Purpose Vehilce), karena bisa mengangkut penumpang dan barang banyak.
Kata dia, keberadaan mobil murah tidak akan membuat penjualan Low MPV tergerus. Justru pangsa pasar city car dan Low MPV akan semakin besar.
Situasi serupa juga dialami Daihatsu Ayla. Jualan kembaran Agya ini moncer. Tercatat bulan lalu mobil itu terserap pasar 4.929 unit, naik di mana September terlego 4.377 unit.
Angka itu jauh meninggalkan Sirion yang juga satu tipe dari merek Daihatsu. Ayla begitu cepat meninggalkan Sirion yang rata-rata hanya terjual 600 unit per bulan. Harga Ayla tipe temahal dan Sirion versi standar terpaut sekitar Rp40 juta.
Tanggapan Daihatsu masih sama dengan sang kakak, Toyota. Masuknya Ayla, kata Presiden Direktur Astra Daihatsu Motor, Sudirman MR, diharapkan bisa memberikan daya dobrak lebih besar lagi untuk mengeruk pasar city car bersama Sirion.
Tapi lagi-lagi pasar berkata lain. Saking banyak diminati, Ayla bahkan mulai menempel Xenia yang notabene menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu selama ini. Xenia bulan lalu terlego 5.918 unit sedangkan Ayla 4.929 unit. Bukan mustahil Ayla kelak justru menggeser Xenia sebagai backbone mobil laris Daihatsu.
 
Lain halnya dengan Honda. Pada awal kelahiran mobil murahnya, mereka sudah sadar bakal memakan model city car yang sudah dimiliki, Brio.
Agar tidak tergerus banyak, Honda pasang strategi memecah Brio menjadi beberapa varian, di mana versi terendah dengan mesin 1.200cc tanpa transmisi matik dijadikan model mobil murah, Brio Satya.
Hasilnya, Brio Satya unggul dibanding versi lain atau Brio non LCGC. Dari 408 unit pada September menjadi 1.145 unit pada bulan berikutnya. Sedangkan Brio 1.3 L Sports bulan lalu hanya laku 148 unit. Adapun Brio 1.2 L masih lumayan mencapai 1.393 unit.
"Kanibalisme di Brio pasti ada. Segmen varian tertinggi Brio 1.3 Sports mungkin mengecil. Kemudian yang tumbuh adalah kelas New Brio 1.2 dan Brio Satya," kata Direktur Marketing dan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy kepada VIVAnews.
Model city car lain yang lesu penjualannya ketika mobil murah datang adalah Suzuki Splash. Mobil ini sempat mengalami penjualan cukup tinggi pada September 2013, yaitu 1.300 unit. Tapi Oktober lalu Splash menyusut 415 unit.
Beberapa waktu lalu, Suzuki diketahui telah meluncurkan mobil murahnya, Karimun Wagon-R.
Kondisi serupa juga terjadi pada Nissan dengan city car March. Meski sempat terlego pada 1.068 unit pada September, pada Oktober lalu turun menjadi 824 unit.
Nissan memang tidak memiliki mobil murah. Namun, Datsun yang masih menjadi grup Nissan Motor bakal menghadirkan mobil murah, Datsun GO+ pada pertengahan 2014.
Masih stabil
Tren penjualan cukup stabil justru dialami produsen asal Korsel, KIA. City car mereka, Picanto, pada September lalu terlego 379 unit, kemudian meningkat menjadi 415 unit pada bulan berikutnya. Rata-rata, Picanto terserap pasar 400-500 unit tiap bulannya.
Mobil lainnya yang mengalami kenaikan pada Oktober lalu adalah Mitsubishi Mirage. Meski sempat terkena recall (penarikan kembali), Mirage terlego 704 unit atau naik dari bulan sebelumnya, yang rata-rata hanya terjual 400-600 unit.
Diketahui, KIA dan Mitsubishi belum memiliki mobil murah. Mereka mengaku masih melihat perkembangan pasar.  Keduanya cukup hati-hati bermain mobil murah. Salah satu kekhawatirannya adalah booming mobil murah hanya euforia sesaat.






























0 komentar:

Post a Comment

Pengunjung yang baik akan selalu meninggalkan komentar.