Indonesia Memperoleh Investment Grade, Investasi Bertambah Rp81 T


Menteri Perdagangan yang masih merangkap sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Irawan Wirjawan, menyambut baik kenaikan peringkat Indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch Ratings.

Gita mengungkapkan, meskipun sedikit terlambat pengakuan itu, namun kenaikan peringkat itu dinilai sesuai dengan harapan dan dapat meningkatkan foreign direct investment (FDI) sebesar US$9 miliar atau setara Rp81 triliun (kurs Rp9.000).

"Alhamdulillah, sesuai dengan harapan. Walaupun agak terlambat sedikit pengakuannya. Ini akan berdampak positif terhadap investasi dan perdagangan untuk Indonesia," kata Gita Wirjawan kepada VIVAnews, Kamis malam, 15 Desember 2011.

Dia menegaskan, memang sudah sewajarnya Indonesia mendapatkan peringkat investment grade itu dan kenaikan peringkat ini akan meningkatkan FDI sebesar satu persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Sewajarnya, kenaikan peringkat ini akan meningkatkan FDI sebesar kurang lebih satu persen dari PDB atau US$9 miliar, kenaikannya saja di atas level semestinya," ungkapnya.

Selanjutnya, Gita menambahkan, untuk sektor perdagangan luar negeri, dia akan memfokuskan pada pasar tradisional dan non tradisional. "Termasuk ke Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan lainnya untuk kepentingan peningkatan ekspor," tegasnya.

Seperti diketahui, Fitch Ratings menaikkan peringkat long term foreign dan local currency Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia menjadi BBB- dari BB+ dengan outlook stabil. Sementara itu, country ceiling dinaikkan menjadi BBB, dan short term foreign currency IDR dinaikkan menjadi F3.

Peringkat Fitch terakhir terhadap Indonesia adalah pada 24 Februari 2011, ketika meningkatkan outlook sovereign rating Indonesia dari BB+/stable menjadi BB+/positive.

Dalam siaran persnya, Direktur Fitch Asia-Pacific Sovereign Ratings Group Philip McNicholas, mengatakan peningkatan peringkat kali ini didasarkan pada peningkatan kinerja perekonomian, likuiditas eksternal yang lebih kuat, rasio public debt yang rendah dengan tren yang terus menurun, dan kebijakan makro yang berhati-hati.

Indonesia juga dinilai maju pesat dalam mengatasi kelemahan struktural serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bahkan lebih baik dari proyeksi Fitch. Rendahnya ketidakseimbangan eksternal dan inflasi akan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan mendorong peningkatan peringkat sovereign Indonesia lebih lanjut

Fitch tetap menyoroti permasalahan kelemahan struktural seperti pendapatan per kapita dan penerimaan fiskal yang rendah, pasar keuangan domestik yang dangkal, dan permasalahan-permasalahan di bidang kualitas infrastruktur serta pemberantasan korupsi yang masih perlu diatasi. Namun, faktor-faktor tersebut tidak menjadi penghalang bagi kenaikan peringkat tersebut. (art)
• VIVAnews

2 komentar:

  1. wah, informasi yang tergolong berat buat saya, mas, hehe .... maklum, sejak dulu ndak pernah paham soal beginian, tapi terima kasih telah mau berbagi.

    ReplyDelete
  2. wow kita bisa melihat sisi baik indonesiaku..teruslah maju. salam kenal gan....

    ReplyDelete

Pengunjung yang baik akan selalu meninggalkan komentar.